DINAMIKA RELASI
KOSGORO 1957 DENGAN PARTAI GOLKAR
DI ERA SETELAH SOEHARTO
Untuk mata kuliah Sistem Politik Indonesia
Dosen Pengampu:
Dr.Rusnaini.M.Si
Disusun oleh:
Nama : Anggi
Yoga Pramanda
Nim : K6414007
PRODI
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET SURAKARTA
SURAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam
kerangka meraih dukungan luas dari berbagai segmen pemilih, partai menjalin
relasi yang kuat dan mengakar dengan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas)
sebagai salah satu strategi elektoral. Anggota dan simpatisan ormas menjadi
target pemilih yang penting bagi partai. Selain itu, ormas juga menjadi sumber
rekruitmen kader yang penting bagi partai.
Dalam
konteks itu, Golkar menjadi partai yang menarik terkait dengan relasinya dengan
ormas. Sebagai kekuatan utama pendukung rezim Orde Baru, Golkar berawal dari
berbagai kelompok ormas yang didirikan oleh militer pada penghujung era
Demokrasi Terpimpin yang waktu itu familiar dengan istilah “organisasi
fungsional”. Sejak awal ormas-ormas itu didirikan militer Angkatan Darat (AD) sebagai kekuatan penyeimbang PKI yang menjadi
rival utamanya di panggung politik Demokrasi Terpimpin. Rezim pemerintahan
Soeharto menjadikan Golkar sebagai kekuatan politik utama
yang menopang kekuasaannya. Melalui kebijakan “reorganisasi”, hampir
seluruh kekuatan ormas yang ada dikooptasi dan dijadikan pendukung Golkar.
Kekuatan pendukung Golkar itu terdiri dari tiga kelompok
utama yang secara struktural diformalkan menjadi jalur yang lazim disebut
jalur ABG. Jalur A merupakan jalur
militer atau Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI)-melalui
pimpinan ABRI diberbagai tingkatan menginstruksikan seluruh keluarga besar ABRI
untuk mensukseskan Golkar. Jalur B merupakan jalur birokrasi-melalui Menteri DalamNegeri (Mendagri) lewat kebijakan “monoloyalitas tunggal” menginstruksikan
kepada seluruh birokrasi pemerintahan untuk memilih Golkar. Sementara
jalur G merupakan jalur
“organisasi Golkar” sendiri
yang di dalamnya terdapat
berbagai bentuk ormas, seperti organisasi kepemudaan, profesi, pengusaha
dsb. Jalur G ini juga sering dikatakan
sebagai jalur kekuatan sipil di Golkar. Di dalamnya juga terdapat ormas
yang dulunya menjadi cikal bakal
pembentukan Golkar seperti Kesatuan
Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO),
Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong
(MKGR) dan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia
(SOKSI) yang familiar disebut Tri Karya.
Medio
1998 terjadi perubahan konsetalasi
politik akibat gelombang reformasi. Soeharto yang berkuasa lebih dari tiga
dekade memutuskan berhenti sebagai Presiden yang menandai runtuhnya rezim Orde
Baru. Menarik dicermati bagaimana
perjalanan Golkar selanjutnya di era baru Post-Soeharto. Dihapusnya dwifungsi ABRI dan aturan
larangan PNS berpolitik (dalam
Undang-undang No. 2 Tahun 1999 disebutkan birokrasi dilarang berpolitik )
praksis menghilangkan dua
kekuatan utama Golkar dalam setiap pemilu. Kehilangan kekuatan efektifnya ini
menyebabkan perolehan suara Golkar
pun terbukti merosot tajam darisebelumnya 74 persen turun
menjadi 22 persen pada agenda elektoral
pertama pasca Soeharto. Meski menurun
drastis, suara Golkar tetaplah signifikan
dalam kepolitikan sistem multipartai.
Menang di Pemilu 2004 dan
runner-up di Pemilu 1999, 2009
dan 2014, Golkar tetap menempatkan posisinya sebagai kekuatan menentukan dalam
perpolitikan Indonesia.
Sementara
itu sepeninggal Soeharto, Golkar mengalami perubahan konsetalasi politik di
internal termasuk relasi dengan ormas-ormas pendukungnya. Ormas-ormas yang
diera Orde Baru solid mendukung Golkar tiba-tiba “menjaga jarak” dengan Golkar.
Beberapa diantara ormas itu menyatakan memisahkan diri dari Golkar, bahkan
mendeklarasikan diri menjadi partai baru. Beberapa ormas seperti Pemuda
Pancasila misalnya memutuskan memisahkan diri dari Golkar yang kemudian mendeklarasikan
Partai Patriot. Fenomena paling menyita perhatian adalah yang menimpa KOSGORO
dan MKGR (dua dari tiga ormas pendiri Golkar yang masih eksis). Setelah selama
Orde Baru konsisten menjadi ormas pendukung Golkar, tiba-tiba KOSGORO
memutuskan menjadi organisasi independen menjelang Pemilu 1999. Tidak hanya
berhenti disitu, suksesi kepemimpinan yang tidak berjalan normal akhirnya
menghasilkan dualisme kepemimpinan KOSGORO.
Pertama, KOSGORO yang menyatakan independen dalam aspirasi politiknya.
Kedua, KOSGORO 1957 yang menyatakan dukungannya pada Partai Golkar.
Fenomena
diatas menjadi salah satu hal yang menarik untuk dikaji dalam studi Golkar.
Dilihat dari literatur yang ada kajian mengenai
relasi Golkar dengan ormas pendukungnya merupakan kajian yang langka. Makalah
ini akan mencoba mengisi kelangkaan itu
dengan mengkaji relasi Golkar dengan KOSGORO. Meski titik tekannya pada era
Post-Soeharto,makalah ini juga mencuplik bagian di era Soeharto untuk memahami
alur historisnya di era Post-Soeharto.
Singkatnya,
penulis terdorong untuk melakukan studi terkait relasi Golkar dengan KOSGORO
dengan dua pertimbangan. Pertama, sebagai partai tertua dan juga
salah satu yang terkuat dalam struktur
kekuasaan politik Indonesia, Golkar mengalami
dinamika politik yang
tinggi terutama setelah era Post-Soeharto. Dinamika kontestasi kekuasaan
di internal Golkar yang melibatkan ormas pendukungnya terutama KOSGORO, tentu
menjadi bagian penting yang perlu dicermati dalam membaca perkembagan Golkar.
Terbelahnya organisasi menjadi dua cukup merefleksikan bagaimana tingginya dinamika politik
yang terjadi pada ormas pendukungnya ini. Tentu, pengaruh sejarah panjang
hubungan Golkar dengan KOSGORO sangat mempengaruhi fenomena ini. Kedua, KOSGORO menunjukkan peran yang
besar dalam supplier elit di struktural
Golkar di era Post-Soeharto dalam hal
ini tidak sesederhana memahaminya sebagai menguatnya peran ormas Jalur G akibat
keluarnya birokrasi dan militer. Perlu analisa yang komprehensif terkait relasi
Golkar dengan KOSGORO dalam suatu framework relasi organisasional.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
tipe kelompok kepentingan KOSGORO 1957 menurut klasifikasi Gabriel Almond?
2. Apakah
terjadi pergeseran karakteristik KOSGORO antara era Soeharto dan setelah era
Soeharto?
3. Bagaimana
karakteristik relasi KOSGORO pada era setelah Soeharto?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Kelompok
Kepentingan
Kelompok
kepentingan memusatkan perhatian pada upaya mengartikulasikan kepentingan
tertentu yang ditujukan pemerintah.
Pemerintah berharap pemerintah menyusun kebijakan yang memihak kelompoknya.
Keanggotaannya berasala dari golongan-golongan yang merasa tertindas atau
terpinggirkan oleh kebijakan-kebijakan dari elit politik. Mereka punya tujuan
yang sama yakni memperbaiki nasib mereka. Dasar perjuangan dari kelompok
kepentingan adalah protes dan sikap kritis terhadap cara-cara berpolitik dari
para politisi dan pejabat. Hal ini dilandasi perasaan terasingkan atau
terpinggirkan.
Kelompok
kepentingan menginginkan desentralisasi dari kekuasaan dan partisipasi dalam
peningkatan swadaya masyarakat. Kelompok ini selalu berinteraksi dengan badan
eksekutif namun tetap memposisikan kedudukannya sebagai organisasi yang otonom
terhadap negara. Cara kerja kelompok kepentingan tidak menggunakan
tekanan-tekanan ataupun paksaan, tetapi melalui hubungan ke dalam (lobbying)
serta jaringan kerja (networking) yang intensif tetapi persuasif.
Jika
cara-cara di atas tidak berhasil terkadang menggunakan cara-cara lebih keras
seperti: demonstrasi, unjuk rasa dan pemogokan kerja. Jika cara-cara kekerasan
ini ditempuh maka tidak bisa dinamakan lagi kelompok kepentingan tetapi, kelompok
penekan. Ciri organisasi ini adalah mempunyi jaringan luas, tidak hanya didalam
negeri, tetapi di luar negeri juga ada. Di pihak lain organisasi ini dapat
dimanfaatkan sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat serta dijadikan
alat kontrol dan penyalur aspirasi selain lewat partai politik.
Gabriel
A. Almound membedakan kelompok kepentingan menjadi empat bentuk, antara lain:
a. Kelompok
Anomik: Kelompok anomik terbentuk di antara unsur-unsur dalam masyarakat secara
spontan dan hanya bersifat sementara dan tidak memiliki norma dan sistem yang
jelas. Kelompok ini tidak memiliki jaringan resmi dengan organisasi politik
maupun institusi lainnya. Organisasi ini sangat longgar dan hanya terbatas pada
bentuk-bentuk forum, komite, dan sejenisnya. Kelompok ini juga dapat
menumbuhkan keberanian rakyat untuk mengambil posisi berbeda dengan penguasa.
b. Kelompok
Non-Asosional: Kelompok ini tidak terorganisir dan kurang teratur, kegiatan
bersifat insidental. Secara teoritis, kegiatan kelompok non-asosional merupakan
ciri masyarakat yang belum maju, di mana kesetiaan kesukuan atau
keluarga-keluarga aristokrat mendominasi kehidupan politis.
c. Kelompok
Institusional: Organisasi seperti partai politik, korporasi bisnis, badan
legislatif, organisasi keagamaan sering kali mendukung kelompok institusional.
Kelompok ini bersifat formal dan memiliki fungsi-fungsi politik dan sosial.
Kelompok ini juga mempunyai pengaruh kuat dalam mempengaruhi kebijakan
pemerintah, hal ini karena basis dari kelompok ini kuat.
d. Kelompok
Assosional: Kelompok assosional meliputi serikat buruh, kelompok keagamaan,
organisasi sosial. Secara khusus, kelompok assosional menyatakan kepentingan
dari suatu kelompok khusus, menggunakan pekerja yang profesional, dan memiliki prosedur yang teratur guna merumuskan
kepentingan dan tuntutan. Basis organisasionalnya menempatkannya di atas
kelompok non -assosional, strategi dan tujuannya dianggap mewakili kepentingan
masyarakat
B.
Relasi
Partai Politik dengan Organisasi Kolateral
Organisasi
kolateral merupakan organisasi yang digunakan partai sebagai perantaranya
dengan kelompok pemilih potensial yang bisa berbentuk serikat buruh, organisasi
keagamaan, pemuda dll. Organisasi kolateral mengartikulasi dan mengagregasi kepentingannya dan berusaha untuk mempengaruhi kebijakan partai. Organisasi kolateral berinteraksi dengan partai politik secara
reguler dan berjangka panjang. Organisasi tersebut pada umumnya mewakili
kelompok-kelompok sosial tertentu, misalnya buruh, petani, pemuda, perempuan
atau aliran agama tertentu. Melalui
organisasi kolateral partai politik dapat mengakses kelompok-kelompok
sosial itu dan merekrut anggota baru
BAB III
PEMBAHASAN
A. Profil KOSGORO 1957
Nama
Lembaga : Kesatuan
Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO)
Alamat : Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan
Berdiri
Sejak :10 November 1957
Pendiri :
Mas
Isman
Profil Lembaga
a.
Asas
: Pancasila
b.
Visi : Memperkokoh keberadaan KOSGORO 1957 sebagai
Organisasi Kemasyarakatan yang handal dan professional yang mampu mewujudkan cita-cita
perjuangan Bangsa untuk membangun Masyarakat Adil dan Makmur berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan panduan jiwa dan semangat Pengabdian – Kerakyatan –
Solidaritas
c.
Misi :
1.
Memantapkan keberadaan dan pengakaran organisasi
KOSGORO 1957, ditengah-tengah perkembangan bangsa Indonesia, dengan turut ambil
bagian secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.
Meningkatkan kemampuan, kualitas dan profesionalisme
para penyelenggara organisasi serta terbangunnya barisan kader dalam kualitas
dan kuantitas yang handal dan professional.
3.
Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan
memperoleh pekerjaan yang layak, pendidikan yang bermutu dan kesempatan
berusaha bagi seluruh rakyat Indonesia dengan mamadukan Kebijakan Negara dengan
pemberdayaan masyarakat.
4.
Mengembangkan peranserta masyarakat dan dunia usaha
dengan pemberdayaan perkonomian rakyat khususnya Koperasi, Usaha Mikro Kecil
dan Menengah.
5.
Meningkatkan dan memantapkan kesadaran dan budaya
hukum masyarakat dengan pemahaman atas hak dan kewajiban sebagai wargangara
yang sadar hukum, pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam serta
terpeliharanya ekosistem.
Struktur Pengurus
a.
Ketua
Umum : Aziz
Syamsudin
b.
Sekretaris
Jenderal : Bowo Sidik Pangarso
c.
Bendahara
Umum : Rita
Widyasari
B. Posisi KOSGORO di Tinjau dari
Kelompok Kepentingan Menurut Gabriel Almond
Dalam usahanya mencapai tujuan yang telah
ditetapkannya kelompok kepentingan, jika melihat tipe-tipe kelompok kepentingan
menurut Gabriel Almond, maka Kosgoro masuk ke dalam kelompok kepentingan
institusional
Kelompok Kepentingan Institusional atau Institutional interest group adalah
merupakan kelompok kepentingan yang bersifat formal. Kelompok kepentingan
institusional ini sudah terorganisir secara rapi dan teratur. Demikian pula
kelompok kepentingan tipe ini memiliki fungsi-fungsi sosial dan politik yang
lainnya disamping berfungsi mengartikulasikan kepentingan
Kader KOSGORO 1957 harus terus menjaga
hubungan dengan semua potensi bangsa khusunya partai politik, TNI dan POLRI
dalam sinergi gerakan KOSGORO 1957, Kaderisasi dan konsolidasi pengkaderan
menjadi penting untuk mampu menghasilkan kader-kader yang berkualitas,
professional, bertaqwa, tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan patriotik.
Program kaderisasi juga harus menghasilkan kader-kader yang rasional, militan,
tak kenal lelah, tanpa pamrih dan bermoral kerakyatan. Seleksi dan rekrutmen
anggota kader berdasarkan pertimbangan kebutuhan, kualitas, pengabdian,
integritas, dan prestasi(merit system) bukan atas dasar kolusi dan nepotisme.
Kader yang teruji akan memberikan kontribusi terbaik bagi kejayaan organisasi
dan perjuangan kerakyatan. KOSGORO 1957 menerima secara terbuka semua lapiszan
masyarakat menjadi anggota dan kader. Oleh karenanya perhatian pada kegiatan
kaderisasi organisasi menjadi perhatian yang seksama bagi KOSGORO 1957.
Sebagai bagian
dari peran pembinaan kehidupan politik bangsa, maka bagi KOSGORO 1957 usaha
mendorong demokrasi politik juga mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh.
Menurut KOSGORO 1957 dalam masyarakat yang demokratis juga tercipta kehidupan
politik yang berorentasi pada kerakyatan. Untuk itu, perlakuan privelege
(istemewa) atas kelompok elit politik tertentu, jelas bertentangan dengan
demokrasi politik. Bila demokrasi dalam bidang politik dan demokrasi berkembang
dalam kehidupan bangsa, maka tubuh bangsa Indonesia yang tangguh, mandiri,
patriotik, dan berdaya saing tinggi.
Dalam kehidupan
demokrasi, KOSGORO 1957 ikut mendorong agar kualitas peranan institusi politik
baik supra maupun infra-struktur tumbuh berkembang secara modern dan demokratis
serta memahami tuntutan, aspirasi dan agregasi politik rakyat dengan menjunjung
tinggi makna kedaulatan rakyat. Dalam perspektif demokrasi ini, maka KOSGORO
1957 sebagai cikal bakal GOLKAR tetapi menjaga dan memelihara hubungan
histories serta berada di barisan terdepan Partai GOLKAR.
KOSGORO 1957
harus mendorong terbentuknya para pemimpin bangsa yang memiliki Sense of Priority (lebih-lebih
menghadapi suatu situasi krisis), Sense
of Responsibility (memiliki kemampuan merespon secara maksimal tantangan
yang dihadapi) Sense of National
Solidarty (mampu membangun persaudaraan nasional dengan sikap kenegarawan).
Kemimpinan ini merupakan pengejawatahan dari karakter Institutional Leadership dan buka sekedar Administrative Leadership, Pemimpin seperti ini bukan sekedar
pemimpin birokratis, tetapi pemimpin yang berkualitas negarawan.
C.
Pergeseran
Karakteristik KOSGORO Antara Era Soeharto dan Setelah Era Soeharto
Sebagai
kekuatan utama pendukung rezim Orde Baru, Golkar terlahir dari gabungan ormas
yang salah satunya KOSGORO. Dalam perkembangannya melalui berbagai kebijakan
reorganisasi yang dilakukan pemerintahan Soeharto, Golkar “ditransformasikan”
menjadi “quasi partai politik” sebagai basis legitimasi politik
pemerintahannya. Dukungan militer dan birokrasi dipadukan dengan berbagai
kekuatan ormas pada “Jalur G”, memastikan
Golkar menjadi kekuatan dominan
yang menguasai enam Pemilu di era Orde Baru.
Setelah
berkuasa lebih dari tiga dekade, Soeharto mengundurkan diri tahun 1998 yang
menandai runtuhnya rezim Orde Baru. Seiring dengan itu, penghapusan dwifungsi ABRI dan aturan larangan PNS
berpolitik praksis menghilangkan dua
kekuatan utama elektoral Golkar.
Tidak hanya itu, sepeninggal Soeharto Golkar mengalami dinamika
faksionalisasi yang keras di internal. Faksionalisasi ini merembet pada
dualisme kepemimpinan KOSGORO pasca Mubes VIII Tahun 2000; KOSGORO pimpinan
Hayono Isman yang menyatakan independen dalam aspirasi politiknya dan KOSGORO
1957 pimpinan Agung Laksono yang menyatakan dukungannya pada Partai Golkar. Meski
demikian, Golkar tetap mampu meraih suara signifikan
dalam sistem multipartai dengan
pencapaian pemenang di Pemilu 2004 dan menjadi
runner-uppada Pemilu 1999,2009, dan 2014. Tak bisa dipungkiri KOSGORO
1957 sebagai “transformasi” KOSGORO pendukung Golkar berperan penting sebagai
salah satu warisan tersisa kekuatan Partai Golkar.
Dalam
periode 1964-1983 relasi KOSGORO dengan Golkar mengadopsi tipe keangotaan
kolektif. Model keanggotaan kolektif ini berawal sejak didirikannya Golkar yang
berbentuk federasi organisasi dengan
nama saat itu Sekber Golkar. Dalam perkembangannya, Soeharto
mengeluarkan kebijakan reorganisasi Golkar dalam bentuk keaanggotaan stelsel
aktif pada Munas III Tahun 1983. Momentum ini sekaligus juga menandai rentang
kedua relasi Golkar dengan KOSGORO. Model keanggotaan stelsel aktif ini diadopsi
sampai pada berakhirnya rezim Soeharto tahun 1998.
Tumpang
tindih keanggotaan KOSGORO dengan Golkar selama dua fase di era Soeharto masuk
pada kategori parsial. Dalam kenggotaan kolektif, KOSGORO menjadi anggota
Golkar secara organisasi. Sementara anggota KOSGORO sendiri tidak semuanya
menjadi anggota Golkar. Model ini juga bertahan ketika Golkar mengadopsi
keanggotaan individu.
Sementara
itu dimensi hak keanggotaan menunjukkan korelasi yang kuat dengan tipe
keanggotaan. Dalam tipe keanggotaan kolektif, hak anggota bersifat secara
kolektif. Sepeti yang dibunyikan dalam kontitusi awal Sekber Golkar yang berisikan
secara implisit kenggotaan ormas.
D.
Karakteristik
Relasi KOSGORO Setelah Era Soeharto
Sebagai
pendiri Golkar, sejak awal jenis relasi KOSGORO
dengan Golkar masuk pada kategori formal. Perubahan model keanggotaannya tidak pernah mengubah jenis relasinya dengan
Golkar. Relasi Golkar dengan KOSGORO di era Soeharto menunjukkan model yang
unik dibandingkan dalam beberapa kasus yang terjadi di negara lain. Bentuk Golkar
yang mencirikan partai kartel menyebabkan besarnya pengaruh pemerintah Soeharto
di Golkar. Sehingga relasi Golkar dengan KOSGORO juga sangat terkait dengan
kepentingan pemerintahan Soeharto. Kebijakan reorganisasi yang dilakukan
Soeharto terhadap Golkar memberikan pengaruh yang besar terhadap KOSGORO. Seperti
kontrol partai terhadap organisasi, pengaruh organisasi terhadap partai dalam
kasus Golkar dengan KOSGORO sangat dipengaruhi kekuatan eksternal dalam hal ini
Soeharto. Bentuk ideal dalam relasi partai dengan organisasi kolateral tidak
begitu terlihat dalam kasus ini. Sehingga dalam prakteknya, pengaruh KOSGORO
secara organisasi sangat rendah di Golkar.
Relasi Golkar dengan KOSGORO sejatinya berbeda dengan model hubungan
partai politik dengan serikat buruh atau kelompok keagamaan di Eropa. Kepentingan
Golkar dengan KOSGORO tidak muncul dari pembilahan sosial, namun kepentingan
pragmatis politik dalam menghadapi PKI. Belakangan gagasan “kekaryaan” atau
juga paradigma developmentalism yang menjadi kepentingan bersama Golkar dan
KOSGORO muncul sebagai jargon pemerintahan Soeharto. Sehingga dalam hal ini karakteristik
kepentingan dominan yang muncul adalah kepentingan internal.
Situasi
politik berubah drastis pada pertengahan tahun 1998 seiring dengan jatuhnya
Soeharto. Reformasi politik dilakukan dengan penataan sistem kepartaian yang
lebih demokratis. Golkar yang selama Orde Baru mendapat dukungan dari militer
dan birokrasi harus memutuskan hubungannya dengan kedua institusi negara
tersebut sejalan dengan agenda demokratisasi politik berupa netralitas militer
dan birokrasi. Sementara dinamika politik berlangsung keras pada jalur “ G”,
yang ditandai dengan keluarnya beberapa ormas yang juga beberapa diantaranya
mengalami perpecahan. KOSGORO sebagai salah satu ormas pendukung yang tidak
luput dari hantaman dinamika internal yang melanda Golkar. Jejak
kontestasi elit yang dijelaskan pada bagian sebelumnya
kembali mendapatkan arena baru pada momentum suksesi kepemimpinan Golkar dan KOSGORO.
Pada akhirnya kontestasi antar elit ini berakhir dengan perpecahan. KOSGORO
sendiri mengalami dualisme kepemimpinan pasca Mubes VIIInya. KOSGORO yang
menyatakannya dirinya independen dari partai dipimpin oleh Hayono Isman dan KOSGORO
yang menyatakan dirinya mendukung Partai Golkar dipimpin oleh Agung Laksono.
Selanjutnya KOSGORO yang menyatakan dukungannya kepada Partai Golkar
mendeklarasikan KOSGORO 1957.
Era
KOSGORO 1957 ini mewarnai babak baru hubungan Partai Golkar dengan salah satu
ormas pendirinya ini. Dalam hal jenis keanggotaan, relasi Partai Golkar dengan
KOSGORO 1957 mengadopsi model individual. Model ini juga merupakan model yang
diterapkan di era Soeharto sejak tahun
1983. Model keanggotaan individu menjadi bentuk keanggotaan yang dipakai Partai
Golkar di era Post-Soeharto. Model kenggotaan indievidu ini juga terkait dengan
hak keanggotaannya. Dalam model keanggotaan individu ini, hak keangotaannya
juga individu. Sementara itu tumpang tindih keanggotan dalam relasi Partai
Golkar dengan KOSGORO 1957 masuk pada kategori parsial. Artinya, tidak semua anggota
KOSGORO 1957 menjadi anggota Partai Golkar.
Kemudian
jenis relasi Partai Golkar dengan KOSGORO 1957 masuk pada jenis formal. Sejak
dideklarasikan, KOSGORO 1957 dengan tegas menyatakan Partai Golkar sebagai
satu-satunya media saluran politiknya. Sementara Partai Golkar juga mempertegas
relasinya dengan KOSGORO 1957 dalam AD/ARTnya yang diperkuat dengan Peraturan
Organisasi Partai Golkar. KOSGORO 1957 juga diberikan kewenangan untuk terlibat
dalam pengambilan keputusan pada semua tingkatan struktur partai. Pada babak
baru relasi dengan Partai Golkar ini menunjukkan peran KOSGORO 1957 yang semakin
besar di Partai Golkar melalui kader-kadernya. Kita bisa mencermati banyaknya
elit KOSGORO 1957 yang menempati posisi strategis di struktural Partai Golkar,
eksekutif maupun di legislatif melalui Partai Golkar
Studi
relasi Partai Golkar dengan KOSGORO
1957 menunjukkan rentang kontrol yang terbatas dari partai terhadap
organisasi. Meski relasi yang dibangun secara
formal, kontrol Golkar terhadap KOSGORO 1957 relatif terlihat rendah. Berbagai
sikap yang berbeda KOSGORO 1957 dari Partai Golkar terlihat dalam berbagai
momentum politik. Dua yang mencolok adalah sikap KOSGORO 1957 di Pilpres 2009
dan 2014. Dalam tingkat lokal, perbedaan ini lebih terlihat lagi dalam berbagai
Pilkada.
Sementara
itu secara umum pengaruh KOSGORO 1957 sebagai organisasi kolateral di Partai Golkar relatif meningkat dibandingkan
dengan di era Soeharto. Secara organisasional, KOSGORO 1957 terlibat dalam
pengambilan kebijakan. Sementara itu, komposisi elit pengambil kebijakan di
Partai Golkar diberbagai tingkat banyak menempatkan tokoh-tokoh KOSGORO 1957.
Meski demikian, secara umum pengaruh KOSGORO 1957 di Partai Golkar masih dalam kategori
bervariasi.
Perihal
jenis kepentingan menunjukkan relatif sama dengan era KOSGORO yang lebih
menonjolkan kepentingan internal. Karya dan kekaryaan sebagai agenda bersama
merupakan cara pandang
developmenlisme. Dalam prakteknya,
isu yang diangkat sangat beragam. Karakteristik programatik atau partai
catch-all sangat kental dalam diri Partai Golkar. Pada saat yang sama, karakter
ini juga hadir dalam diri KOSGORO 1957 sebagai ormas.
Sementara
itu relasi Partai Golkar dengan KOSGORO 1957 di era Post Soeharto ini
dipengaruhi oleh tiga faktor.
Pertama, alasan historis yang
terkait dengan sejarah pembentukan dan relasinya di masa Soeharto. Kedua, reorganisasi kekuasaan elit pasca
mundurnya Soeharto berupa faksionalisme elit di internal Golkar. Faksionalisme ini merupakan refleksi dari
reorganisasi kekuasaan ini yang melibatkan banyak elit berkontestasi
memperebutkan kendali utama. Dideklarasikannya KOSGORO 1957 merupakan implikasi
dari kontestasi tersebut. Ketiga, meski tidak terlalu signifikan, orientasi
ideologis dalam doktrin karya kekaryaan menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi relasi Partai Golkar dengan KOSGORO 1957.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setidaknya studi
mempunyai dua kontribusi. Pertama, studi
ini mencoba menawarkan hal yang baru dalam membahas eksistensi Golkar di era
Post-Soeharto dilihat dari potret relasinya dengan ormas pendukungnya. Kedua, studi ini mencoba menawarkan
perspektif baru dalam kajian kepartaian Indonesia yang masih minim dalam
mengakaji relasi partai dengan organisasi kolateral. Sementara seperti yang
dijelaskan di bagian awal studi ini, relasi partai dengan organisasi kolateral
menjadi faktor penting survival partai politik.
Dalam
konteks makro studi ini tidak menawarkan
konsep baru tentangrelasi partai
politik dengan organisasi kolateral. Gambaran yang didapatkan dari relasi
Golkar dengan KOSGORO ini memberikan temuan baru mengenai karakteristik organisasi kolateral
dibandingkan dari studi organisasi kolateral. Karakteristik baru ini tidak
lepas dari perbedaan dalam stuktur sosial-politik masyarakat yang menjadi lokus
kajian sebelumnya.
Dimasa yang akan datang dengan kajian ini kita
juga bisa dikembangkan dengan studi komparatif terhadap ormas pendukungnya yang
lain seperti SOKSI dan MKGR. Juga bisa digunakan dalam mencermati kasus yang
lebih mikro di level lokal yang seringkali tidak merefleksikan fenomena yang
terjadi pada level nasional. Selain itu kajian ini bisa dikembangkan dalam
membaca perkembangan termutakhir kontestasi elit Partai Golkar dengan “wajah
faksionalisasinya”yang kuat.
DAFTAR
PUSTAKA
Syafii Inu, Kencana k, dkk, Sistem Politik Indonesia, Bandung,
Refika Aditama. 2005
Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia. Jakarta. Gramedia. 1981
Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Pidato Menteri Perencanaan Pembanguan
Nasional/ BAPPENAS di Musyawarah Besar KOSGORO 1957 pada tanggal 4 April 2008
Tandjung,Akbar.The Golkar Way.Jakarta: Gramedia. 2007.
https://pdk2kosgoro1957.wordpress.com/visi-dan-misi-kosgoro-1957/ https://m.beritasatu.com/politik/165576-pengurus-baru-kosgoro-dikukuhkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar